Home OKU RAYA Pasar Batumarta VI Senilai Rp 5,8 Miliar Sepi Pembeli dan Pedagang

Pasar Batumarta VI Senilai Rp 5,8 Miliar Sepi Pembeli dan Pedagang

1101
0
SHARE
Kondisi Los Pasar Batumarta VI, Kecamatan Madang Suku III, OKU Timur sepi dan tidak ada aktivitas jual beli. (Foto : Suaraokuraya.co.id)

OKU Timur, SOR – Difungsikan sejak satu tahun lalu, Pasar Batumarta VI yang direvitalisasi dari dana APBN sebesar Rp 5,8 miliar di Kecamatan Madang Suku III, Kabupaten OKU Timur kondisinya seperti mati suri atau hidup segan mati tak mau, banyak kios dan los di pasar ini yang tak berpenghuni.

Berdasarkan pengamatan dilapangan di Pasar Batumarta VI belum lama ini direhab secara total, belum menunjukkan perkembangan yang signifikan, aktivitas jual beli terlihat sepi. Pada jam 10.15 WIB, pasar sudah sepi dari segala aktivitas. Semua pedagangnya pun sudah kembali ke rumah masing-masing.

Los pasar, tempat penjualan aneka sayur-mayur, ikan dan daging terlihat sepi, tidak terlihat satupun pedagang yang menempati los tersebut. Suasana serupa ditemui di kios depan pasar, total kios yang ada jumlahnya jauh melebihi pedagang yang biasa menjajakan dagangan di situ. Selain itu, banyak kios yang masih tertutup.

Menurut Yuliadi, 48, pedagang sepatu, sejak menempati kios satu tahun yang lalu, pengunjung masih sepi ditambah dengan anjloknya harga komoditi karet. “Saya berjualan sudah sejak satu tahun yang lalu, dalam sehari hanya dapat Rp 150ribu itupun bukan income,” ungkapnya.

Setelah direvitalisasi, hanya ada tujuh pedagang yang aktif membuka kios dikarenakan sepi pengunjung. “Didepan ini ada 18 kios dan hanya 5 kios yang buka. Meskipun kios tidak sewa dan hanya sistem pakai dengan membayar iuran sebesar Rp 52 ribu, namun masih banyak pedagang yang enggan berdagang disini karena takut merugi,” ujarnya.

Pedagang tidak mau menempati los pasar karena sepi pengunjung dan takut merugi.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Divisi Pasar Desa Nusantara Parnus Sumatera Selatan, Arie Bakti, SH menyatakan pembangunan fisik pasar tidak selaras dengan prencanaan fungsi. “Artinya, pembangunan pasar tersebut tidak disiapkan secara matang,” ujarnya.

Stakholder yang berkaitan juga harus tegas kepada pedagang yang menutup kios. Sebaiknya kios itu diberikan kepada penyewa lain yang mau aktif dan membuka dagangannya.

“Kekosongan kios bisa memengaruhi psikologi pengunjung yang akhirnya malas ke tempat itu. Pengunjung akan berpikir buat apa ke pasar tersebut karena sepi dan tidak ada pilihan dalam melakukan transaksi jual beli,” pungkasnya. (ikm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here